Thursday, June 9, 2016

Menjadi Dewasa

Dewasa.
Ada yang menganggap dewasa hanyalah perkara bertambahnya usia.
As in boys will be boys, and girls likewise.
Sebatas perkara aktivitas sehari-sehari yang mulai berubah.
Bukan lagi berangkat ke sekolah, tapi ke kantor.
Bukan lagi menunggu bel sekolah berbunyi, kini menantikan jam kerja selesai.
Sekedar menunggu waktu untuk kembali bebas dan bermain.
Sebatas itu.

Dewasa.
Ada yang berkata menjadi dewasa adalah perbedaan cara pikir.
Bukan lagi sekedar esok hari ingin melakukan apa, tapi tahun depan ingin menjadi apa.
Bukan lagi sebatas menghabiskan waktu, tapi kini mencari sesuatu.
Meskipun terkadang tidak tahu apa yang dicari.
Ya, betapa seringnya kita tidak tahu.

Dewasa.
Ada yang berkata menjadi dewasa adalah pergeseran tanggung jawab.
Bukan lagi sebatas menjalani studi dan menunggu gelar datang, tapi kini mempertanggungjawabkan gelar tersebut.
Kini bukan hanya diri sendiri yang menjadi perhatian, tetapi juga orang-orang terdekat lainnya,
Atau bahkan ada pula yang memilih mengurus orang lain yang bahkan tidak dikenalnya.
Tanpa pernah mempertanyakan untuk apa ia melakukannya.
Bukan lagi sekedar menjalani hidup, kini telah berubah menjadi bertahan hidup.

Aku bukan penakut.
Sebutkan semua definisi tentang pendewasaan, maka akan aku hadapi semuanya.
Menjadi dewasa bagiku hanyalah sebatas fase lain yang harus dijalani.
Berbekal mimpi dan visi, perlahan aku melangkah meski tak pasti.
Bergegas berhati-hati menuju kedewasaan.

Aku bukan penakut.
Berikan aku tantangan terberat dan sedikit waktu, maka akan kulewati semuanya meski sedikit rapuh.
Meski tidak ada buku yang mengajarkanku bagaimana menjadi dewasa, akan tetap kutempuh dengan caraku.
Cara yang selama ini aku gunakan untuk melewati segala rintangan yang telah kuhadapi sebelumnya,

Tetapi, aku takut.
Aku takut tidak mengetahui untuk apa semua ini aku lakukan.
Aku takut tidak mengetahui untuk siapa semua ini aku lakukan.
Tidak mengetahui dengan siapa akan aku lewati semua ini.

Begitu terlenanya aku dalam fase yang disebut dengan menjadi dewasa.
Hingga nanti ketika sudah terlambat, aku menyadari bahwa aku berdiri sendiri di atas sana.
Tanpa seorang pun untuk berbagi rasa bahagia.
Tanpa seorang pun untuk tertawa bersama.

Maka ingatkan aku,
untuk terus menggenggam jemarimu,
untuk terus menjagamu di dalam hatiku,
untuk terus meluangkan waktuku untukmu.

Maka ingatkan aku,
untuk menjadi dewasa bersamamu.

Monday, June 6, 2016

Persimpangan Jalan

Akhirnya aku pun turut merasakan fase yang ditakutkan sekaligus dinantikan.
Satu fase dimana akhirnya kita semua harus memilih.
Menjadi apa di hidup ini.
Bersama siapa dalam menjalankannya.

Satu hal yang menarik untuk selalu dilakukan di hidup ini adalah membuat rencana.
Merencanakan apa yang ingin dituju serta mempersiapkannya semenjak lama.
Menantikan hasil setelah semua usaha yang telah dijalankan.
Segala pengorbanan yang telah dilakukan untuk mencapainya.

Hingga akhirnya lahirlah satu hal yang tidak kalah menarik.

Ketika tiba-tiba seluruh rencana tersebut berubah.

Ketika tiba-tiba sebuah tembok besar menghalangi setapak jalan yang telah dibangun dengan penuh kehati-hatian.

Ketika akhirnya tersadar bahwa rencana baru harus kembali dituliskan.

Ketika kita akhirnya dihantam dengan keras oleh fenomena yang lebih dikenal sebagai kenyataan.

Ketika akhirnya tersadar harus kembali membangun setapak jalan lainnya.

Hingga akhirnya menyadari dan mencoba mengimani bahwa semua ini adalah rencana terindah yang dibangun dengan teliti oleh Tuhan.
Entah kapan keindahan tersebut akan datang.
Mungkin ini adalah satu ujian yang akan diikuti ujian lainnya sebelum keindahan tersebut akhirnya datang.
Mungkin ini cara Tuhan untuk menyadarkan hamba-Nya, atau sekedar mengujinya.
Namun aku memilih untuk percaya bahwa bukan tugas seorang hamba untuk mempertanyakan Tuhan.

Bahwa tugas seorang hamba adalah mengusahakan yang terbaik.
Menjadi manusia yang tidak menyiakan waktunya untuk bermuram durja.
Menjadi manusia yang terus menggunakan waktunya untuk mengejar kebajikan.
Menjadi manusia yang terus mengusahakan kebaikan bagi manusia lainnya.

Selamat datang,
yang selalu kutakutkan,
yang selalu kunantikan.

Selamat datang, persimpangan jalan.

Tuesday, September 22, 2015

Rencana-Nya

Menyusup begitu lembutnya ke dalam akal
Merasuki begitu dalamnya ke dalam pikiran
Satu renungan yang mengganggu tenangnya malam ini
Sebagaimana ia menyusupi dan merasuki malam-malam lainnya.

Aku percaya bahwa Tuhan punya rencana
Aku yakini itu
Namun aku tahu manusia diizinkan untuk mengusahakan
Aku yakini itu

Namun tetap tak berhasil aku menghindarinya
Satu renungan yang sama di malam yang berbeda

Satu renungan tentang pilihan
Satu renungan tentang masa depan
Satu renungan tentang rencanya-Nya

Life Is A Mystery

07.40 berangkat ke kantor
16.15 berangkat dari kantor
17.20 tiba di kampus
23.00 akhirnya tiba di rumah

23.00 - 00.00 sesi kontemplasi malam

Sometimes it is funny to see how life unfold its mysteries. 

Sekitar 4 tahun lalu, merasa paling yakin dengan passion yang ingin dikejar. Akuntansi, katanya.
8 semester kemudian, sedang berjuang memperoleh sertifikasi. Di bidang online marketing, khususnya search engine marketing. Bukan akuntansi. 
Haha. Kocak.
Butuh 8 semester untuk menyadari bahwa akuntansi bukanlah passion yang ingin dikejar. Haha. Butuh 9 kali bayar kuliah untuk menyadarinya.
Haha. Kocak.

SMA, kerjaannya mencari identitas diri.
Kuliah, berusaha memastikan identitas diri.
Merasa sudah sangat yakin dengan identitas diri yang dibentuk selama 4 tahun.
Hanya untuk tiba-tiba menyadari bahwa telah masuk tahap baru dalam pencarian identitas.
Haha. Kocak.

Life is indeed a mystery.

Kuncinya? 
Tawakkal.
Bismillah.

I'm looking forward to see you, Tomorrow :)

[Belajar Bersyukur]

Entah harus malu, segan, atau kagum.

Tebet-Senopati-Depok-Tebet.
07.00 - 23.00.

Belum genap seminggu punya rutinitas baru seperti itu. 
Sudah terlintas rasa lelah, telah teruntai langkah yang melemah. 
Katanya, rasa letih telah menyerang badan.

Katanya, ada beban ekspektasi di kantor. 
Katanya, masih ada juga tanggung jawab organisasi. 
Katanya, belum lagi skripsi yang masih menanti penyelesaiannya.

Entah harus malu, segan, atau kagum.

Lantas terhenyak dengan sosok pemimpin keluarga yang melintas di pikiran.
Entah belasan hingga puluhan tahun menjalani rutinitas yang serupa.
Berangkat pagi, pulang pagi, belum lagi jika ternyata harus tidak pulang.
Beban ekspektasi di kantor bahkan sama sekali tidak seberapa.
Apabila dibandingkan dengan beban menafkahi anggota keluarga yang menjadi tanggungannya.
Bukan hidup sekedar hidup, tapi anggota keluarga dapat hidup berkecukupan yang jadi harapannya.

Entah harus malu, segan, atau kagum.

Jika membayangkan beratnya beban yang harus ditanggung olehnya.
Jika memikirkan "balasan" apa yang selama ini mampu saya berikan.
Entahlah, tak terpikirkan "kekuatan"apa yang selama ini mampu menjaga semangatnya.
Belum lagi jika melihat para "working mother" dengan segala kewajibannya.
Belum pula jika melihat para "single parent " dengan segala keterbatasannya.

Entah harus malu, segan, atau kagum.

Mungkin, ini saatnya belajar "menunjukkan" rasa terima kasih.
Mungkin, ini saatnya belajar bersyukur.

As when things could've been better, it could've been worse

Ketenangan Hati

Ketika hati teramat jauh dari ketenangan dan akal telah kehabisan cara untuk menenangkannya.

Maka bersyukurlah bahwa ada Allah, sebaik-baiknya perencana, Sang Maha-Merencanakan.

Dan bersyukurlah bahwa masih dikaruniai kemampuan untuk mengingat Allah.

Monday, September 21, 2015

Hidup itu,


Kejarlah kesempurnaan. Karena kamu sepenuhnya mengetahui bahwa manusia adalah tempatnya kesalahan. Karena kamu pun sepenuhnya mengetahui bahwa manusia tidak akan pernah mencapai kesempurnaan. Maka, ketahuilah dengan sepenuhnya, atas hal itu pula, bahwa kita akan selalu memiliki ruang untuk memperbaiki dan meningkatkan diri. Maka perbaikilah. Maka tingkatkanlah. Kejarlah kesempurnaan.

Jadikan hidup ini menyenangkan. Karena kamu sepenuhnya mengetahui bahwa berbagai tantangan maupun rintangan akan selalu menyertai hidupmu. Maka tak perlu lagi kamu tambahkan kesulitan hidup kamu dengan segala keluhan yang mungkin kamu keluarkan. Maka tersenyumlah. Jadikan hidup ini menyenangkan.

Maka bersyukurlah. Sebagaimana kamu sepenuhnya mengetahui bahwa berbagai tantangan maupun rintangan akan selalu menyertai hidupmu, maka ketahuilah dengan sepenuhnya, betapa banyak anugerah dan karunia yang telah dan akan selalu menyertai hidupmu. Sadarilah bahwa semua jalan hidupmu telah direncanakan dengan sempurna oleh-Nya, sebaik-baiknya perencana, Sang Maha-Merencanakan. Maka bersyukurlah.

Dan ingatlah bahwa seluruh langkah yang telah kamu tempuh, sedang kamu tempuh, dan yang akan kamu tempuh, sesungguhnya hanya sebuah proses yang teramat panjang lagi teramat singkat. Teramat panjangnya ketika kita sedangkan menjalani langkah tersebut. Teramat singkat apabila kita mengingat betapa fana-nya kehidupan di dunia ini. Dan bahwa sesungguhnya kehidupan hanya sebuah lorong singkat yang akan mengantarkan kita ke kehidupan selanjutnya, ketika nantinya kita akan dimatikan, untuk kemudian dihidupkan kembali.

Maka jalanilah proses ini dengan sebaik mungkin.
Maka jalanilah hidup ini sebagai proses yang menyenangkan dalam mencapai kesempurnaan, yang diiringi rasa syukur.